Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisiku

My Poem; Terlalu

Terlalu by: myself Terlalu itu buruk Bahkan jika itu adalah hal yang baik Hal yang katanya indah Hal yang katanya agung Hal yang katanya suci Hal yang katanya kelam Hal yang katanya terang Hal yang katanya kotor Hal yang katanya bersih Hal yang katanya entah apa lagi Bahkan intuisipun bisa menebaknya dengan tepat Seperti lapangan tembak dengan para penembaknya Ditambah papan sasaran Tepat namun tak selamanya sepasang Para pujangga sering berkata Cinta itu indah Pikirku  Jika ditambah satu kata didepannya Akan menjadi hal yang buruk Hanya dengan kata terlalu Terlalu cinta adalah hal yang buruk Karena akan merubah c menjadi b Kebencian yang amat sangat

My Poem; Melihat Kebelakang

 Melihat Kebelakang by: myself Melihat kebelakang Ku berikan telinga untuk mendengar segala keluh Ku berikan waktu untuk mengenal lebih jauh Ku berikan asa untuk menapak harapan Ku berikan upaya untuk mengerti tindakan Ku berikan mata untuk perhatian dalam tudung Melihat kebelakang Punggung dan pundak menatap kearahku  Kesunyian menjawab ceritaku Cermin memantulkan upayaku Desir angin menyelimuti asaku Dinding setia mempersembahkan perhatiannya Melihat kebelakang Tak ada yang bergerak maju dan mundur Punduk kepala selalu tersedia didepan mata Menoleh saat memuntahkan kata Lalu menghilang Membuat ilalang lembut tajam bergemerisik sendiri Berdiri lunglai namun tak tergoyahkan Meski terdorong ke tanah oleh angin Berdiri kembali dalam sendirinya Melihat kebelakang Membangunkan kekosongan segala penjuru Menyadarkan kesia-siaan yang tak berguna Menyambar keegoisan yang tumbuh tanpa peringatan Melihat kebelakang Sudahlah Selesai Terserah 

My Poem : Ingatan

Ingatan by:  myself Setiap orang memiliki potongan ingatan Peristiwa yang secara tak sengaja tak terlupakan Dengan imbas ringan namun tertahan Tanpa alasan tanpa peringatan Menyelinap dibalik pelupuk masa lalu Kembali dalam alunan memabukkan Namun tak menyentuh kesadaran Seperti hembusan angin di tengah terik Sedikit sejuk tapi tak menghilangkan dahaga Terdengar bagai oasis dalam fakta fatamorgana Sia-sia tak mengabulkan angan Tapi cukup sebagai penghiburan Ingatan hanyalah ingatan Jalan di depan mata hanya terbentang ditempatnya Menanti dilalui atau diacuhkan Hingga persimpangan hanya dijadikan acuan pilihan Entah jalan berbatu, berpasir atau setapak Dengan gilasan besar yang perlu untuk meratakan Dengan dua tangan tanpa kamera pengintai Dengan kebebasan tanpa pengawasan Cukup jurang di penghujung, atau taman yang menanti Tapi sekali lagi diacuhkan Sebab sangka pikiran fatamorgana Membuat kursi penonton terus diduduki dan tak ditinggalkan Seperti stereotip sangkaan yang jelas Yang...

Jurnal 76: My Poem

Permainan Kata by: myself Aku bukan orang yang pandai memainkan kata Hingga hati sering berlebih mengikat dada Keindahan apapun tak mampu membuatku melahirkan kata emas memuji Namun hanya kosong diam, tercenung dan ingin menikmati Tak mau lepas dari kilauan matahari di ujung horizon di atas air yang bergemuruh Tak mau berdalih melihat kerlipan dilangit dan di bumi Terpana tanpa mampu mengungkapkan apapun Jika kau tanya tentang keindahannya Aku takkan mampu membuatmu tertarik dan ikut terpukau Tersipu oleh tarian alam Kemolekan nusantara yang selalu berbeda Bahkan rekaman gambar takkan mampu mengatakan indahnya Kebesaran karunia berupa mata Aku bukan orang yang pandai memainkan kata Hingga kepala buram mengikat mengruhkan Kala aku melihat hal yang menyedihkan Yang terpenca rapi tak hanya di sudut ibukota Yang duduk diam mengharap belas kasihan Kau takkan menemukan apa yang sebenarnya terlihat Hanya akan menatap kosong beriring kesal Ketika ...

Jurnal 71; Puisi

Kertas yang Menguning by: myself Kertas itu terselip di balik buku Menguning tak terduga Tak tertoreh tinta pengisi hari Tak bermakna tak berarti Tak berkisah Diam tanpa cerita Debu pengisi penguning putih Tak terguna di waktu depan Kertas itu menguning Terselip tanpa lirik Bahkan mungkin menghilang tak berjejak Kertas itu merapuh perlahan Tak terlihat tak terbaca tak terkenang Hanya kertas menguning Yang terlanjur tercetak Mengharap untaian kisah peran utama Meski hanya figuran Tak kesah berkesah

jurnal 21 puisi

  KETIKA by: myself (Indonesian) Ketika tak ada desiran kata Diam, bisu, tenang Ketika tak ada gemuruh gelak Rintih, sendu, kelabu Ketika tak ada lambaian sapa Acuh, tak peduli, merah Ketika tak ada kilauan rona Sipu, pucat, buta Ketika tak ada hembusan tatap Gelap, dingin, muram Ketika tak ada dengungan isak Sesak, kejang, lunglai Ketika tak ada dentuman sindir asing, pojok, asing Ketika tak ada apapun Gelap, pudar, tak berpengharap Hilang (English) When there is nothing whisper of the word Silent, mute, quiet Where there is nothing jarring of the laugh Moaning, sad , gray When no wave greet Apathetic , indifferent, red When there was no hue sparkle Blush , pale , blind When no face blast Dark, cold , gloomy When no hum sob Spasms, convulsions , weak When no boom sarcastically foreign , corner , foreign When there was nothing Dark , dull , no hope disappear

jurnal 20, literary girl

Are You Remember?? by: myself Are you remember, girl?? Saat pikir menoleh Tampak diri yang mendamba Pandangan kosong nanar di satu titik Yang hangat namun tak menebar Tak sampai pada diri yang memandang Rintik kambut menutupi kemungkinan Are you remember, girl?? Saat flashback yang tak dipinta Mematut diri di depan kaca Dan tak tampak tak terasa yang terlihat Sibuk memandang ingin yang tak dipunya Kehangatan yang menyertai tak terpikir Kegembiraan tak jelas dilirik ingin Bukan milik tapi mencoba menggapai Satu dua tahun terpakai Hanya ada menginginkan daripada mengetahui apa yang dimiliki tanpa ada terima kasih untuk Sang Pemberi Namun, hanya ingin Are you remember that, girl?? Saat seorang yang tak disadari mencoba memberi warna Memberikan pelangi indah Saat sungai mengering meninggalkan gersang di permukaan Embun itu melembabkan permukaan Menumbuhkan rerumputan Yang siapapun senang untuk bergabung Menikmati hari yang kering Hingga akhirnya titik menga...

jurnal 8 Puisi,

Balas Si Merah Mata by: myself Hembusan angin terbawa hingga meraja sendiri dan tak berteman bagai simponi tanpa nada hambar dan takkan didengar entah apa yang terkandung ribut namun tak bersuara tak berguna sungguh tak berguna tak terdengar saat mau didengar satu dua tiga bualan percuma alias sia-sia cacat menyedihkan tanpa harapan jangan berpaling jangan pedulikan daripada banyak lebah menyengat hati bengkak meledak tapi tak terlihat dengar jangan didengar atau kepakkan melayang ringan tanpa ampun tanpa kasihan atau layangkan aum harimau yang tajam melebihi baja jangan hanya menoreh sungai yang terjun deras tanpa ampun meriak tanpa terhalang hanya menerima apa yang ditorehkan sungguh kasihan menyedihkan kini tegakkan kepala tatap si merah mata tanpa gugup tanpa ragu dengan nyala melebihi mata elang lontar dengan anggun isi dengan genggaman kata dunia maka ia akan tahu bahwa semua tidak padanya